WA Sutanto

Guru SD Bendungan III Karangmojo Gunungkidul. GTT 12 tahun Kadang baca atau nulis cerita , pernah 2013 nominator lomba alat peraga di LP...

Selengkapnya
Jelang Ramadan

Jelang Ramadan

Ramadhan nama siswa kelas III SD Tawangreja. Ia lahir pada tanggal 18 Ramadan 8 tahun lalu. Saat pulang sekolah memberitahu ayahnya. " Pak Guru Agama memberi tugas agar berjamaah ke mushola. Kegiatan ini untuk persiapan jelang bulan Ramadhan."

"Pak tolong dibangunkan pagi-pagi. Aku ingin ikut ke mushola !" Ia berpesan.

" Baiklah nanti jangan ngambek lho ! Sekarang segera tidur ke kamarmu ! "

Ayah siap melaksanakan amanahnya.

Azan Shubuh dikumandangkan muazin. Pertanda panggilan sholat berjamaah.

" Nak itu azan sudah berkumandang, ayo segera bangun !"

Angga bangun tidur masih terasa berat . Ayahnya mengangkat kepala Angga. Masih belum mau bangun. Sampai waktu iqomat dikumandangkan belum beranjak dari kamar tidur.

" Ayah tinggal lho !"

Ayah berangkat ke mushola sendiri. Angga ditinggal di rumah bersama ibunya.

***

" Assalamualaikum."

Ayah sudah selesai sholat subuh. Masuk rumah terkejut. Angga menangis dan menendang bantal. Kamar tidur berserakan.

" Kenapa kau nak ?"

Rupanya ayah bingung melihat anaknya yang menangis. Baru kali ini begitu kehilangan waktu untuk ke mushola.

" Ayah tak membangunkan Angga. Ayah ingkar."

Anak itu protes pada ayahnya. Merasa tak dipenuhi permintaannya. Sambil menangis sejadinya karena tak diajak ke musola.

Ia merasa kehilangan kesempatan emasnya pagi itu. Tugas pak guru belum dapat dilaksanakan dengan baik.

" Sudahlah besuk pagi jangan molor lagi yha. Tadi ayahmu sudah membangunkanmu nak. Tapi dirimu masih tak mau bangun. Padahal ayah sudah mengangkat kepalamu sampai berulang kali."

Madan masih terisak-isak menangis di dekat ibunya.

"Ayah nakal bu."

Ia tak merasa bila sudah dibangunkan ayah.

" Baiklah besuk pagi , ibu yang membangunkanmu nak !"

" Ayah saja yang membangunkan bu. "

***

Buku penghubungnya belum dicontreng . Kolom kegiatan sholat subuh berjamaah masih bersih. merasa kehilangan .

Padahal Faisal sudah mendapat contreng.

" Bu aku belum ada contrengnya."

" Baiklah besuk kau harus bangun dengan segera !"

Pesan itu disampaikan ayahnya. Tetap saja berulang keadaan masih seperti pagi kemarin dan kini yang terjadi sebuah tangisan yang keras. Merasa tak digugah lagi. Ia menangis sejadinya karena contrengnya gagal yang kedua kalinya.

" Nak bila sulit digugah nanti akan dibasuh dengan air bagimana ?"

" Air."

" Berarti aku akan basah kuyup ."

" Lha kamu dibangunkan berulang masih sulit bangunnya."

" Aku tak mau."

" Katanya minta dibangunkan ?"

" Tapi tak seperti ini."

Mau bercakap -cakap berarti telah sadar dari tidurnya. Ayahnya mengingatkan tentang contreng yang masih kosong itu.

" o..iyha.. ?"

Akhirnya ia mau bangun untuk ikut ke mushola.

Sejak saat itu ia sudah tercontreng buku penghubungnya. Hingga batas minimal 20 kali berjamaah Shubuh berturut -turut telah mampu terlampui.

Telah terbiasa bangun lebih awal pagi. Dan akhirnya telah menjadi kebiasaan yang terbentuk dari kecil. Kini sudah berjalan aktif dan menjadi kegiatan yang rutin. Tak lagi dengan air cukup terdengar azan sudah paham apa yang dilakukan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali